Ujian Munaqosyah Kelas XII MA Raudlatul Ulum Resmi Digelar, Orang Tua Ikut Dampingi Santri
scheduleSabtu, 10 Januari 2026
Guyangan - Tidak semua sekolah menjadikan ujian lisan sebagai syarat kelulusan. Di Madrasah Aliyah Raudlatul Ulum Guyangan, ujian munaqosyah justru menjadi tahapan krusial yang harus dilalui santri kelas XII sebelum dinyatakan menyelesaikan pendidikan. Sejak 5 Januari 2026, santri mengikuti ujian munaqosyah sebagai bentuk evaluasi akhir yang tidak hanya menguji penguasaan materi, tetapi juga kesiapan mental, kedalaman pemahaman, serta kemampuan komunikasi yang selama ini ditempa di madrasah dan pesantren. Dalam pelaksanaannya, ujian ini terbagi menjadi empat subtes utama. Setiap subtes memiliki karakter dan tantangan tersendiri, sehingga santri dituntut untuk fokus, teliti, serta mampu mengaplikasikan ilmu secara sistematis dan bertanggung jawab.
Subtes pertama adalah Muhadatsah Bahasa Arab, yang menguji kemampuan santri dalam berkomunikasi aktif menggunakan bahasa Arab. Menariknya, pengujian dilakukan langsung oleh dosen mab’uts bergelar doktor (S3) dari Universitas Al-Azhar, Mesir, sehingga standar yang diterapkan benar-benar mencerminkan kompetensi bahasa yang aplikatif. Subtes kedua adalah Conversation Bahasa Inggris, yang menilai kemampuan santri dalam berkomunikasi secara lisan dalam bahasa Inggris secara interaktif.
Selanjutnya, santri diuji melalui subtes Qiro’atul Kitab, yakni kemampuan membaca, memahami, dan memaknai kitab kuning. Dalam pelaksanaannya, Qiro’atul Kitab menjadi subtes paling menantang karena santri harus fokus, teliti, mampu berpikir analitis dan sistematis dalam pengaplikasian ilmu nahwu-sharaf dan gramatikal Arab. Ketiadaan harokat dalam kitab kuning menjadi tantangan tersendiri karena kesalahan pemberian harokat mampu menjurus pada kesalahan pemahaman isi kitab itu sendiri. Subtes terakhir adalah Juz Amma, yang menguji ketepatan dan kelancaran hafalan Al-Qur’an Juz 30.
Bagi santri, ujian munaqosyah bukan sekadar formalitas akademik, tetapi momen penentuan yang sarat dengan beban moral. Adnan Fatih, santri kelas XII-A asal Magelang, mengaku telah mempersiapkan ujian ini dengan cukup matang sejak jauh hari. “Saya sudah mempersiapkan munaqosyah ini dengan serius. Jujur saja, ada rasa deg-degan karena ini seperti mempertaruhkan kepercayaan orang tua. Tapi begitu nama saya dipanggil dan ternyata dinyatakan lulus, rasanya lega bukan main,” ungkapnya.
Dalam ujian ini, santri dinyatakan lulus apabila berhasil menuntaskan keempat subtes. Apabila terdapat satu subtes yang belum memenuhi kriteria kelulusan, santri akan dinyatakan belum lulus dan wajib mengikuti ujian remedial hingga seluruh subtes dinyatakan tuntas. Tingginya tuntutan dalam ujian munaqosyah juga tercermin dari standar kelulusan yang ditetapkan. Madrasah menetapkan batas minimal kelulusan pada angka 75 untuk setiap subtes, cukup tinggi untuk standar ujian lisan. Artinya, santri tidak cukup hanya berani tampil, tetapi dituntut benar-benar menguasai materi secara substansial. Ujian dilaksanakan dalam dua sesi setiap hari di luar kegiatan belajar mengajar, dengan sesi pagi diperuntukkan bagi santri putri dan sesi siang bagi santri putra.
Selain menjadi ujian bagi santri, munaqosyah juga menghadirkan pengalaman emosional tersendiri bagi wali santri. Pendampingan langsung selama proses ujian memberi ruang bagi orang tua untuk menyaksikan secara nyata hasil pendidikan putra-putrinya.
“Alhamdulillah, putri saya dinyatakan lulus dalam satu putaran. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai orang tua, karena proses pembelajaran selama enam tahun di Pesantren Raudlatul Ulum terbukti membuahkan hasil yang memuaskan,” ungkap salah satu wali santri asal Blora saat ditemui usai pelaksanaan ujian munaqosyah.
Wali santri lainnya asal Jambi juga menyampaikan terima kasih dan rasa syukurnya. “Terima kasih kepada YPRU yang telah membimbing putri saya hingga sampai pada titik ini. Dari yang awalnya belum lancar menulis huruf hijaiyyah, kini alhamdulillah dapat lulus ujian Qiro’atul Kitab. Semoga adiknya kelak bisa menyusul jejak kakaknya, syukur-syukur bisa lulus satu putaran juga. Sekali lagi, terima kasih YPRU,” ujarnya sembari merangkul putri bungsunya.
Apresiasi dan kebanggaan yang disampaikan para wali santri tersebut tidak lahir secara instan. Hasil yang diraih para santri merupakan buah dari proses panjang dan persiapan yang dirancang secara matang oleh madrasah. Dari sisi persiapan, seluruh santri mendapatkan fasilitas dan kesempatan yang sama. Proses bimbingan dirancang secara sistematis agar santri tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki soft skill komunikasi yang baik.
Keseriusan madrasah dalam menyelenggarakan ujian munaqosyah juga tercermin dari Program Pengayaan Intensif yang dilaksanakan menjelang ujian. Madrasah secara khusus mengadakan kelas persiapan pada malam hari, di luar jam belajar reguler, dengan fokus penguatan materi persiapan ujian munaqosyah. Program ini dirancang agar santri tidak hanya menghafal, tetapi mampu memahami dan menyampaikan materi dengan runtut dan percaya diri saat diuji. Melalui pendampingan berkelanjutan ini, santri dibiasakan menghadapi tekanan akademik secara sehat dan terarah.
Dengan adanya pengayaan intensif dan keterlibatan orang tua, ujian munaqosyah menjadi proses pendidikan yang utuh. Tidak hanya sebagai ujian sesaat, melainkan sebagai puncak dari rangkaian pembinaan jangka panjang yang mengintegrasikan kedisiplinan belajar, ketangguhan mental, serta dukungan keluarga. Di titik inilah ujian munaqosyah menunjukkan nilainya: sebagai ruang pembuktian, perjumpaan, dan penguatan kepercayaan antara madrasah, santri, dan wali santri.
Pembina Yayasan, Drs. KH. M. Najib Suyuthi, M.Ag., dalam acara pembekalan penguji ujian munaqosyah, menyampaikan bahwa ujian munaqosyah merupakan bentuk tanggung jawab madrasah kepada orang tua santri.
“Ujian munaqosyah ini merupakan bukti tanggung jawab kita atas amanah yang telah diberikan oleh Bapak dan Ibu wali santri untuk mendidik putra-putrinya. Harapannya, setelah lulus dari sini, mereka memiliki bekal untuk bermasyarakat dan melanjutkan ke fase kehidupan selanjutnya. Ingat selalu bahwa seluruh ikhtiar dan kesungguhan yang kita lakukan semata-mata berangkat dari niat menegakkan ilmu, bukan dari materi, min bābil-‘ilmi, lā min bābir-rizqi”.
Melalui ujian munaqosyah, MA Raudlatul Ulum Guyangan tidak hanya menilai siapa yang layak lulus, tetapi juga menegaskan arah pendidikan yang ditempuh. Ujian ini menjadi penanda bahwa proses belajar bukan berhenti pada angka dan nilai, melainkan pada kesiapan santri menghadapi kehidupan bermasyarakat dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab yang menyertainya.
***
Galeri
Tim Redaksi
Kunjungi konten kami di Instagram Reel: Munaqosyah Kelas XII MA Raudlatul Ulum
dan Instagram Post: Ujian Munaqosyah Day 1 - Day 5 | Ujian Munaqosyah Day 6 - Day 10
Berita Terbaru
- RSA Wujudkan Khidmah Pesantren di Bidang Kesehatan, Bakti Sosial Peduli Masyarakat Digelar di Dua Desa Pesisir
Jumat, 23 Januari 2026
- 49 Santri MA Raudlatul Ulum Lolos SNBP 2025, Capaian Meningkat Signifikan dari Tahun Sebelumnya
Selasa, 18 Maret 2025
- Pesantren Raudlatul Ulum Dorong Transformasi Pembelajaran Melalui Workshop Deep Learning
Jumat, 5 September 2025
- Peringatan Isra Mi’raj 1447 H, Pesantren Raudlatul Ulum Jadikan Rajab sebagai Ruang Refleksi dan Penguatan Karakter Santri
Jumat, 16 Januari 2026
- Merajut Silaturahim Antar Pesantren, Pesantren Daruttaqwa Gresik Kunjungi Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan
Senin, 12 Januari 2026