Peringatan Isra Mi’raj 1447 H, Pesantren Raudlatul Ulum Jadikan Rajab sebagai Ruang Refleksi dan Penguatan Karakter Santri

scheduleJumat, 16 Januari 2026

Guyangan — Bulan Rajab dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan inilah peristiwa agung Isra' Mi’raj Nabi Muhammad SAW terjadi, menjadi penanda penting perjalanan spiritual yang sarat dengan pesan keimanan, ibadah, dan akhlak. Momentum ini dimaknai secara serius oleh Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan dengan menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan 27 Rajab 1447 H, Jumat (16/1/2026).

Peringatan Isra Mi’raj di lingkungan Pesantren Raudlatul Ulum tidak diposisikan sekadar sebagai agenda tahunan seremonial. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi dan pendidikan karakter santri untuk mentadabburi nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW, sekaligus menegaskan pentingnya ibadah dan akhlak sebagai fondasi utama dalam proses pendidikan pesantren.

Sejak pagi hari, suasana peringatan Isra' Mi’raj telah terasa di Kampus 2 Pesantren Raudlatul Ulum. Bertempat di Masjid Muhammad Najib, kompleks Kampus 2, pesantren menggelar peringatan Isra Mi’raj khusus bagi santri tingkat RA dan MI. Berbeda dengan peringatan untuk santri tingkat lanjut, kegiatan ini dikemas dengan pendekatan yang lebih menyenangkan dan edukatif, menyesuaikan usia dan karakter anak-anak.

Peringatan Isra Mi’raj untuk santri RA dan MI diisi dengan lantunan sholawat, permainan edukatif, serta penyampaian pesan keagamaan dengan bahasa yang ringan. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak memahami makna Isra' Mi’raj dengan cara sederhana, khususnya dalam menumbuhkan rasa syukur dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. “Bayangkan kalau kewajiban kita sholat 50 kali sehari, sanggup nggak? Karena itu kita harus bersyukur dan selalu mencontoh Baginda Nabi karena berkat beliau kita bisa sholat 5 kali sehari sedangkan pahalanya setara dengan sholat 50 waktu,” tutur salah satu pemateri di hadapan para santri.

Memasuki malam hari, peringatan Isra' Mi’raj dilanjutkan oleh seluruh santri pondok putra dan putri. Kegiatan dilaksanakan secara serentak di tiga titik: Pondok Putra Kampus Pusat, Pondok Putri Kampus Pusat, serta Pondok Putra Kampus 2. Acara dimulai selepas salat Magrib dan berlangsung dalam suasana khidmat yang berpadu dengan nuansa kebersamaan khas pesantren. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan, dilanjutkan pembacaan Maulid Nabi yang diiringi rebana oleh santri. Nuansa religius terasa semakin kuat ketika lantunan shalawat menggema di masing-masing lokasi. Kegiatan inti diisi dengan mau‘idzoh hasanah yang disampaikan oleh dosen mab’uts bergelar doktor (S3) dari Universitas Al-Azhar Kairo, tentu didampingi penerjemah dari kalangan santri juga sebagai media pembelajaran praktik komunikasi berbahasa Arab. Selain itu, pesantren juga memberi ruang bagi santri untuk tampil sebagai pemateri di beberapa titik kelompok, sebagai bagian dari proses pembelajaran, penguatan mental, serta media berekspresi di hadapan publik.

Dalam mauizahnya, Isra Mi’raj ditekankan sebagai peristiwa yang tidak hanya memiliki dimensi historis, tetapi juga nilai pendidikan yang mendalam. Isra' Mi’raj dipahami sebagai sarana penguatan iman, pembentukan karakter santri, serta pengingat akan pentingnya menjaga ibadah dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Pesan ini menjadi relevan di tengah tantangan zaman yang menuntut santri tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan moral.

Selain dimensi spiritual dan pendidikan, Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan secara sadar menjadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai ruang pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Pesantren tidak hanya memposisikan diri sebagai penyelenggara kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak yang menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam pelaksanaannya, konsumsi untuk ribuan santri dibuat oleh para pengrajin makanan di sekitar pesantren. Pola ini telah dijaga sejak lama sebagai bagian dari dakwah pesantren di bidang sosial-ekonomi. Keterlibatan warga bukan sekadar kebutuhan teknis kegiatan, melainkan wujud komitmen pesantren dalam memberdayakan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Pesantren berupaya hadir tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai penggerak perekonomian masyarakat.

Salah satu warga pengrajin makanan di sekitar pesantren mengungkapkan rasa syukur atas keterlibatan tersebut. Ia mengaku bahwa pesantren secara konsisten mempercayakan penyediaan konsumsi kepadanya setiap ada kegiatan besar, termasuk pemenuhan konsumsi santri setiap hari. “Alhamdulillah, dari pesantren ini kami sangat terbantu. Pesanan rutin dari pesantren benar-benar mengangkat ekonomi keluarga kami. Saya bisa menyekolahkan anak-anak, dan sekarang yang Sulung sudah kuliah di Semarang. Sehat dan berkah selalu untuk YPRU,” tuturnya.

Suasana peringatan Isra Mi’raj malam itu pun terasa sebagai perpaduan antara kekhidmatan ibadah dan kehangatan kebersamaan. Ribuan santri mengikuti rangkaian acara dengan tertib, sementara pesantren dan masyarakat sekitar berinteraksi dalam hubungan yang saling menguatkan.

Melalui peringatan Isra Mi’raj ini, Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan menegaskan bahwa pendidikan santri tidak berhenti pada ruang kelas dan kitab semata. Pendidikan dimaknai sebagai proses menyeluruh yang mengintegrasikan nilai ibadah, pembentukan akhlak, serta kepedulian sosial. Di sinilah Isra Mi’raj tidak hanya diperingati sebagai peristiwa sejarah, tetapi dihadirkan sebagai ruang refleksi bersama bagi santri, pesantren, dan masyarakat.



***


Galeri




***

Tim Redaksi


Kunjungi konten kami di Instagram:

Post : Peringatan Isra' Mi'raj 1447 H

Reels : Isra' Mi'raj Putra PPPRU

Isra' Mi'raj Putri PPPRU